Kamis, 28 September 2017

Piutang Rindu

Rinduku...
Tak ku tahan kau hadir
Kau boleh singgah
Bahkan tinggal berlama
Tapi..
Janganlah seperti beban
Sebab aku yang harus menanggung
Kalau tidak, tak seimbang neracaku
Tapi...
Jadilah layaknya piutang
Kau harus membayar rindu..
Rindu, rindu itu...
Tanpa cadangan pembayaran rindu...
Jangan kau hiraukan! Lantaran nanti denda akan bertambah.

From,
NonaTosca
[28-09-17]


Sabtu, 23 September 2017

Ingin sejernih embun

Corakku terpancar bahagia
Emosiku tak sepancar mimikku
Semesta tau aku ...
Tapi kelu ....
Bahwa dini sedang tak riang, dini hanya bisu tak ingin semua tau...
Tapi terkadang memang harus tau...

Tau bagaimana sanubari ku ingin memaki
Meluapkan pesan dari lubuk hati ini
Tiada mungkin ku beritahu pada Sarwa
Tiada mungkin seseorang acuh terhadap ku
Tiada sanggup ku beritakan kabarku ....

Tuhan...
Aku ingin nurani ini tenang tanpa ada suatu pasal ...
Meminta damai tak bergejolak kabur
Mengaduh asa dalam rasa ...
Harmoni bak lantunan kicauan burung seirama dan jua kalem laksana petang menjemput gelap
Tak bising, seperti ranah yang hidup
Sejernih embun, sesegar pepohonan di awal hari.
Mengundang suka dalam tiap denyut ini

From,
NonaTosca
[24-09-17]

Tak usai menunggu

Yang menunggu hanya aku
Yang menunggu cuma aku
Yang menunggu adalah aku
Yang menunggu ialah aku

Senja terbit sampai terbenam
Masih sama
Tak berbeda, tetap sama
Menunggu masih menunggu
Menunggu
Kapal singgah ke dermaga pelabuhan

Kemerlap gelap malam menghitam
Hingga sang Surya tampak menerangi
Tak berbeda, tengah sama
menunggu.

Adakalanya berat ....
Ingin usai ...
Tapi terlanjur ku menunggu
Hingga penantian yang dalam
Hingga harapan yang ku nanti
Hingga kemungkinan yang tidaklah mungkin
Yaitu...
kamu rindu ataupun sama-sama menunggu
Sama, sama layaknya aku

Dan sampai tahap ini tidak berbeda
Masih serupa tak berubah
Ku simpan rasa ini kepada Tuhan
Tamat atau tiada masa menungguku untuk mu.

From,
NonaTosca
[23-09-17]